Kalau anti uang kita bisa taqwa?

Kalau anti uang kita bisa taqwa?

Comments Off on Kalau anti uang kita bisa taqwa?

Alhamdulillah, dengan ijin Allah rubrik baru di nakibu.com berhasil diluncurkan di awal april 2015 ini. Di tulisan pertama rubrik ini kami ingin mendedikasikan tulisan ini untuk dibaca segenap ayah segenap kaum muslimin. Kenapa? Karena yang muncul di otak ya tentang bahasan ini. Hehehe. Yuks cekidot!

Apakah bertaqwa itu artinya anti dengan uang? Hal ini yang akan kita bahas secara singkat di tulisan kali ini. Banyak kaum muslim yang masih merasa “anti” uang, bahkan seakan-akan uang adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan keimanan. Di sisi lain, seakan-akan mendukung secara sistematis sangkaan itu banyak cerita fiksi anak seperti “Si kaya yang sombong dan si miskin yang baik hati”, atau cerita “hancur karena harta” dan seterusnya yang mana judul-judul itu seakan-akan mengarahkan pikiran pembaca agar memandang negatif orang kaya (dengan sifat sombong, pelit, serakah, curang, dan sebagainya).

Marilah kita tengok ke belakang sejenak, di masa penjajahan Belanda dulu, umat Islam di Indonesia selalu dihembusi sangkaan buruk tentang perdagangan atau menjadi kaya. Sedihnya hal ini justru juga dilakukan oleh banyak ulama yang tidak sadar jika mereka sedang dimanfaatkan penjajah atau bahkan ulama yang sengaja disusupkan untuk kepentingan penjajah seperti Snouck Hurgronje. Maka disampaikanlah hadist yang hanya disampaikan dari satu sisi atau satu wajah saja (tidak berimbang), sehingga umat muslim di Indonesia tidak lagi melawan secara ekonomi, dan menyerahkan perekonomian dan perdagangan ke tangan asing.

Taruhlah hadist-hadist yang sering disitir seperti sbb,

“bagian negeri yang paling disenangi Allah adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasarnya” (HR Muslim)

Atau seperti: “akan masuk surge orang-orang fakir dari kaum muslimin lebih dahulu sebelum orang kaya dari mereka setengah hari dan itu lamanya 500 ratus tahun” (HR Tirmidzi)

Dari hadist-hadist yang dipaparkan hanya “satu wajah” seperti itu tanpa sadar seperti mencuci otak kaum muslim di Indonesia khususnya agar membenci berdagang dan menguasai ekonomi. Pada akhirnya, kita secara mayoritas hanya menjadi budak di tanah sendiri karena ekonomi dikuasai barat atau china yang notabene bukan muslim. Mereka terpaksa jadi pegawai kaum bukan islam, terpaksa mengikuti gaya hidup kaum bukan islam walau bertentangan dengan syariat Islam, bahkan banyak yang dilarang beribadah atau bahkan mengikuti ibadah majikannya, bahkan banyak yang melakukannya secara sukarela.

Mental terjajah, lazimnya dikatakan begitulah kondisi kita saat ini. Dominasi ekonomi bertransformasi menjadi dominasi budaya, kita merasa kecil karena miskin, tak memiliki aset, di tanah sendiri! Dominasi budaya itu pada akhirnya mengantarkan pada dominasi aqidah. Ada istilah yang mengatakan bahwa “terkadang kefakiran itu dekat dengan kukufuran”. Lengkap sudah, tipis iman, tipis kantong, iman hilang, aqidah lenyap. Naudzubillahi min dzalik.

Rasulullah berkata seperti pada hadist-hadist di atas, padahal bukan tanpa maksud, melainkan pasar sebagai jembatan akhirat (baca artikel kami tentang visi akhirat di nakibu.com/mendidik-anak-dengan-prinsip-tawakkal), dan akan sangat berbahaya jika hanya dipahami dari satu wajah saja. Pada kenyataannya Rasulullah dikelingi oleh saudagar-saudagar yang kekayaan dan keimanan serta taqwanya sejalan, >> di atas rata-rata!

Abu bakar misalnya, pernah menyedekahkan uangnya sebanyak 40.000 dinar (Rp 91.290.000) hanya untuk membebaskan budak di masa awal Islam (catatan 1 dinar = 4,25 gram emas. Harga emas = Rp 537.000 / gram). Rasulullah pun adalah pedagang, juga mendatangi pasar. Bahkan Rasulullah pun punya aturan bagi pasar agar perdagangan di pasar menjadi barokah, semuanya dibahas secara komprehensif dan sangat lengkap, tentang riba, quality control, kualitas produk, timbangan, bidding, soal kerjasama, investasi, dan seterusnya.

Ada yang bertanya pada Rasulullah Muhammad SAW, “wahai Rasulullah, mata pencaharian apa yang paling baik? Beliau bersabda, pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi)” (HR Ahmad)

“Tidak boleh hasad (iri dalam bentuk menginginkan) kecuali paa dua orang, yaitu pada orang yang Allah anugerah harta pada dia dan dia infaqkan pada jalan kebaikan dan orang Allah beri karunia ilmu (quran dan Sunnah) dan ia menunaikan dan mengajarkannya” (HR Bukhari Muslim).

Dapat disimpulkan bahwa menjadi kaya adalah wajib bagi sebagian muslimin yang dengannya ia berjihad. Karena jihad adalah dengan dua hal, harta dan jiwa. Dengan harta keperluan kaum muslimin akan bisa dicukupi, dengan harta kita bisa menopang pembiayaan perjuangan dakwah fii sabilillah!. Menjadi muslim mestilah mandiri dari pengaruh yang bisa menggeser aqidah kita, dan kebanyakan itu dari bidang ekonomi. Ayo kuasai perekonomian Islam! Ayo kuasai perekonomian di tanah kita sendiri!

Fahmi Akbar, CEO Herbafarmindo (asiboostertea), salah satu penulis tetap di nakibu.com (terinspirasi dari tulisan Felix siauw dan kisah Ika Kartika) – anda bisa berinteraksi dengan penulis melalui twitter @sumberinfo_ASI atau IG asiboostertea atau di www.asi.web.id

About the author:

ASI Wajib 2 Tahun!

" Rekomendasi WHO dalam World Health Assembly Resolution 54.2, 2001 menyebutkan ASI minimal 2 tahun & MPASI setelah 6 bulan"

Nakibu.com diasuh oleh:

★ Fahmi nurul akbar (penulis, founder herba farmindo - asi booster tea)
★ Rainami (apoteker, tim farmasi herbafarmindo)
★ Li partic (konselor laktasi, penulis, herbalist)

ASI Booster Tea

Melancarkan ASI dalam 24-72 jam. yuks jadi agennya!
hubungi (retail & grosir) :
082302501966
081808544417
085749247620

Back to Top

Please wait...

Yuks, berlangganan informasi gratis!

Masukkan email anda untuk mendapatkan informasi terbaru seputar Parenting, ASI, dan Menyusui. Gratis!!! (Informasi data pribadi dijamin aman dan tidak disalahgunakan)