Mengantar Kesuksesan Anak Dengan “Baiti Jannati”

Mengantar Kesuksesan Anak Dengan “Baiti Jannati”

Comments Off on Mengantar Kesuksesan Anak Dengan “Baiti Jannati”

“Kiranya sebagian besar anda ini telah mendengar kata “baiti Jannati”. Yang kebanyakan memahami kata kata atau ungkapan itu dengan makna “rumah yang menyenangkan dan menentramkan bagaikan surga”. Memang kata “baitun” artinya rumah, namun yang dimaksud adalah Rumah Tangga. Sedang “Jannati” yang dimaksud adalah situasi atau keadaan rumah tangga saat itu sangat menyenangkan dan menyejukkan seolah olah dalam Surga”

DALAM kehidupan setiap manusia ada detik-detik yang sangat berkesan di hati, tidak mudah dihapus dari ingatan sepanjang hayat. Di antaranya adalah aqad nikah. Oleh karena itu Nabi kita Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), selalu membaca khutbah hajah pada suasana seperti ini. Bahkan suasana aqad nikah ini diperkenankan untuk diisi dengan suasana yang semarak, seperti memukul rebana atau diperdengarkan nasyid-nasyid (nyanyian) yang menggema. “Mahasuci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan.”

Memang mengucapkan ijab qabul sangat ringan di lidah, namun pada hakikatnya sangat berat dalam timbangan. Ucapan ijab qabul adalah ikrar, janji setia antara suami dan istri untuk membangun rumah tangga (usrah). Begitu pentingnya istilah ini sehingga Allah menggunakan istilah `miitsaqan gholiidhan’ artinya perjanjian yang kuat, kokoh dan teguh.

Dalam al-Qur’an ada tiga katagori yang menerangkan istilah tersebut. Pertama, perjanjian antara Allah dengan Rasul. Kedua, perjanjian Allah dengan satu ummat. Dan ketiga, perjanjian antara seorang suami dengan istri. Adanya istilah dalam ketiga perjanjian tersebut menunjukkan bahwa aqad nikah adalah ikrar yang sakral dan suci.

Oleh karena itu Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) berpesan kepada para suami: “Takutlah kepada Allah dalam persoalan wanita. Karena susungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang berada di bawah kekuasaan kamu, dan kamu ambil mereka itu dengan amanah Allah dan kamu dihalalkan menggauli mereka berdasarkan kalimat Allah.”

Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa pernikahan bukan sekadar memenuhi dorongan (kebutuhan) biologis, tetapi melaksanakan amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhir zaman.

PARAMETER BAHAGIA

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”

(QS At Taubah [9]: 72)

Karena perbedaan visi dan persepsi tentang arti kebahagiaan, masing-masing #keluarga menggunakan cara dan dan jalan yang berbeda dalam menggapai kebahagiaan masing-masing. Sebagian #keluarga menilai kebahagiaan dengan prestasi-prestasi akademik. Maka, setiap #keluarga dipacu untuk semangat belajar dalam rangka mencapai cita-cita akademiknya. Sehingga berbagai macam gelar bertengger pada nama-nama anggota #keluarga ini.

Sementara #keluarga yang lain menganggap melimpahnya harta dan kekayaan  dapat mengantarkan kepada puncak kebahagiaan. Maka, seluruh anggota keluarga itu pun terinspirasi untuk merengkuh berbagai pernak-pernik dunia seperti mobil mewah, rumah bak istana dan tampilan ala selebritis.

Sebagian lagi, memandang jabatan dan kedudukan sebagai tolok ukur #kebahagiaan. Hidupnya terkuras hanya untuk meraih jabatan. Bahkan, tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi meraih kedudukan dan jabatan itu.

Lalu, apa sih makna kebahagiaan keluarga yang sesungguhnya? Ayat di atas memberikan pemahaman, bahwa kebahagiaan yang hakiki dan“keberuntungan yang besar” adalah ketika kita dapat meraih surga di akhirat nanti. Hal ini menuntut kita untuk mampu menjadikan seluruh lingkungan kita, termasuk rumah kita menjadi taman-taman surga duniawi yang mampu menghantarkan semua keluarga kita menuju taman-taman surga ukhrawi.

Agar terwujud Baiti Jannati

Mengacu dari ayat di atas dan dalil-dalil lain, ada beberapa tips agar kita bisa merealisasikan Baiti Jannati, di antaranya:

Pertama: Mengenalkan Allah swt kepada penghuni rumah

Hal ini dilakukan dengan menerapkan Tarbiyah Imaniyah (Pendidikan Keimanan) kepada seluruh anggota keluarga sejak dini secara terpadu dan kontinyu sehingga mereka manjadi pribadi-pribadi yang bertakwa yang akan mewarisi surga. (lihat QS Ali Imran [3]: 133). Dan seluruh aktivitas orang yang bertakwa bernilai ibadah dan berpahala. Maka, dampak dari ketakwaan pun akan memancar dalam kehidupan #keluarga. Pancaran sinar keimanan ayah, ibu dan anak-anaknya memantul di seluruh lorong-lorong rumah sehingga terciptalah ketenangan dan ketenteraman jiwa, kenyamanan, #keakraban, kedamaian dan #keharmonisan hubungan antaranggota keluarga. Bukankah rumah dengan situasi dan kondisi semacam itu bak surga dunia?

Namun, suasana surgawi di rumah seperti itu hanya akan terwujud manakala para penghuni rumahnya mengenal Allah swt dengan sangat baik. Di sinilah barangkali rahasianya, mengapa ayat di atas diawali dengan “Wa’adallah…” (Allah menjanjikan…). Jika ingin meraih surga (baca: kebahagiaan) di dunia dan akhirat, maka harus dekat dengan Yang Menjanjikan dan Menciptakan surga, yaitu Allah. Dan yang diberi janji pun bukan sembarang manusia, melainkan hanyalah orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan.Tanpa iman, harapan menggapai surga duniawi dan ukhrawi hanyalah tinggal harapan, dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Kedua: Menciptakan Raudhah min Riyadhul Jannah (taman dari taman-taman surga) di rumah

Caranya dengan menghidupkan rumah dengan pengajian-pengajian, baik khusus keluarga maupun umum, dan halaqah-halaqah dzikir (majelis-majelis untuk meningkatkan intensitas dzikir kepada Allah). Memakmurkan rumah dengan lantunan ayat-ayat Al Qur’an supaya tidak seperti kuburan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, “Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah” (HR Muslim no. 1300).

Sesungguhnya kondisi seperti inilah yang disinyalir oleh Rasulullah sebagai Raudhah min Riyadhi’l Jannah (taman dari taman-taman surga).

Beliau saw bersabda, “Jika kalian melewati Riyadhul Jannah (taman-taman surga), maka bergabunglah!” Para sahabat bertanya, “Apa itu Riyadhul Jannah?” Nabi menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir ” (HR At Tirmidzi no. 3432).

Ketiga: Mengenalkan surga kepada keluarga

Termasuk menghadirkan surga di rumah adalah dengan mengenalkan surga kepada keluarga. Mulai dari sifat surga dan kenikmatan pemandangannya yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah tergerak di hati. Pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat: HR An Nasaa’i no. 148), salah satunya bernama Ar Rayyaan yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang rajin berpuasa. Derajat surga, sungai-sungainya, anginnya, cahayanya, istana-istananya, pohon dan buahnya. Amalan-amalan yang diganjar surga, tabiat dan karakter jalan surga yang tidak bertaburan dengan bunga-bunga, melainkan penuh dengan kerikil dan duri. Makanan, minuman dan pakaian penduduk surga, dan khadam (pelayan) mereka. Bagi mereka kemah yang terbuat dari mutiara berlobang seluas 60 mil sehingga seorang mukmin mengelilingi keluarganya hingga seorang dengan lainnya tidak dapat saling melihat saking jauh dan luasnya (HR Bukhari IX/479 no. 2838). Dan berbagai kenikmatan lain yang tiada terbilang dan tak ada yang menandinginya (lihat secara lengkap dalam Al Jannah wa’n Naar (Surga dan Neraka), DR Umar Sulaiman Al Asyqar, hal. 115-267).

Ayat di atas menerangkan sebagian kecil dari kenikmatan tersebut, yaitu“surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn.…”

Bahkan, di atas semua kenikmatan itu, masih ada yang lebih besar dan lebih agung, yaitu keridhaan Allah swt sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah (lihat Tafsir Ibnu Katsir III/38-39).

Dari Abu Sa’id Al Khudry ra berkata: bahwasanya Rasulullah  pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada penghuni surga: “Wahai penghuni surga.” Mereka menjawab: “Baik, kami penuhi panggilan-Mu wahai Rabb kami dan semua kebaikan ada di kedua tangan-Mu.” Lalu Allah bertanya, “Ridhakah kalian?” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak ridha, padahal Engkau telah memberi kami apa saja yang tidak Engkau berikan kepada makhluk lain.” Allah lalu berfirman, “Maukah Aku beri kalian yang melebihi semua itu?” Mereka menjawab, “Ya Rabb, apa sesuatu yang lebih baik dari semua itu?” Allah menjawab, “Aku halalkan untuk kalian ridha-Ku, maka Aku tidak akan murka terhadap kalian setelah ini selama-lamanya” (HR Bukhari XI/363-364 dan Muslim no. 2829).

Dan puncak dari semua kenikmatan di surga adalah melihat Allah Yang Maha Mulia. Dan tidak ada anugerah yang paling disukai oleh penghuni surga selain melihat Rabbnya Yang Maha  Berkah dan Tinggi (lihat HR Muslim no. 181).

Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan, “Rukyatullah (melihat Allah) adalah puncak kenikmatan akhirat dan derajat/tingkatan yang paling tinggi dari semua pemberian Allah yang istimewa…” (Jaami’ul Ushul X/557).

Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah, bahwasanya hubungan dengan Allah yang sekilas dan melepaskan diri dari cengkeraman daya tarik dunia yang sesaat mendapatkan balasan beragam kenikmatan, lalu ditambah lagi dengan ridha Allah yang menggelora dalam jiwa-jiwa mereka, dan itu mereka rasakan tanpa terputus, maka pastilah “itu adalah keberuntungan yang besar” (lihat Fi Zhilal Al Qur’an III/1676).

Bahkan, jika perlu surga dan beragam kenikmatannya itu ditulis dan dikemas dalam suatu poster yang ditempel di tempat yang menarik perhatian di rumah, sehingga semua anggota keluarga selalu mengingatnya dan termotivasi untuk menjadi penguninya. Maka, hal ini secara tidak langsung dapat menjadi motivator dan stimulan dalam memproduksi banyak kebajikan. Sehingga benar-benar “Baiti Jannati,rumahku adalah surgaku“. -Fahmi43

#parenting #baitijannati #rumahku #surgaku #keluarga #damai #AsiDeras #AsiBoosterTea #PelancarASI #BoosterASI #Herbal #Teh #Halal #Aman #Berkhasiat #Manjur #Bagus #PelancarASIyangManjur #PelancarASIyangAmpuh #PelancarASIyangBagus #TehHerbalPelancarASIpertama #Pertama #AsiLancar #AsiBancar #AsiLancardenganAsiBoosterTea #Bumil #IbuHamil #Busui #IbuMenyusui #AsiSeret #CaraAtasiASISeret #AsiPerah #ASI #ASIP 

About the author:

ASI Wajib 2 Tahun!

" Rekomendasi WHO dalam World Health Assembly Resolution 54.2, 2001 menyebutkan ASI minimal 2 tahun & MPASI setelah 6 bulan"

Nakibu.com diasuh oleh:

★ Fahmi nurul akbar (penulis, founder herba farmindo - asi booster tea)
★ Rainami (apoteker, tim farmasi herbafarmindo)
★ Li partic (konselor laktasi, penulis, herbalist)

ASI Booster Tea

Melancarkan ASI dalam 24-72 jam. yuks jadi agennya!
hubungi (retail & grosir) :
082302501966
081808544417
085749247620

Back to Top

Please wait...

Yuks, berlangganan informasi gratis!

Masukkan email anda untuk mendapatkan informasi terbaru seputar Parenting, ASI, dan Menyusui. Gratis!!! (Informasi data pribadi dijamin aman dan tidak disalahgunakan)